Angels Blog

Welcome To Uwie Blog....

Kamis, 17 Maret 2011

Mukjizat cinta


Tugas Meringkas Novel

MUKJIZAT CINTA
By       : Giskania Srinita
Kelas :X1
No       : 11


Ke tanah Samarinda
Hembusan angin pagi yang sejuk menerpa dinding kapal,melintas jendela besi tak berdaun terus mendarat di wajahku, aku sedang bersandar di dinding pembatas dek lima bagian depan. selesai sholat subuh di mushola kapal yang berada di dek kapal yang paling atas.aku langsung turun ke dek lima dan mengamati laut bebas yang  terhampar di depan ku,ketika matahari mulai terbit dari peraduanyadi ufuk timur,membiaskan cahaya kemerahan menembus di dalam laut biru,yang kemudian di pantulkan kemega raga,
Di sisi lain rombongan bangau putih membelah awan tuk mencari makan di tempat yang lebih subur,meeka seakan tau kalau setiap pagi allah memberikan rezeki kepada hambanya namun banyak hambanya yang enggan bangun lebih pagi untuk mencri rezeki itu,rezeki itu datang bila di cari tidak mungkin ada langsung di hadapan kita, ibarat berlian itu tidaklah di peroleh dengan di taburkan tuhan dari langit melainkan ada di dalam tananh yang berlumpur di balik batu besar yang keras yang hrus di hancurkan setelah di pukul berkali kali.
Memang manusia makhluk yang aneh banyak harapan malas berusaha sehingga allah dan sekaligus mengancam dengan ayatnya “lana syakaratum la azalianakum walain kaffarun inna adzabilla syadid”(jika kamu bersyukur atas nikmat ku maka pasti lah aku akan tambahkan,dan jika kamu ingkar azabku sangat pedih)sudah Lama aku ingin ke tanah Samarinda namun baru tahun ini baru bisa terpenuhi  kalau bukan karna kabar sakitnya sahabatku Syamsul  mungkin selamanya aku tidak bisa menginjak kan kaki ku di tanah kutai.
Syamsul ……dia sudah lama tidak pulang ketanah Bugis aku dan Syamsul  bersahabat sejak lama sejak tamat sekolah dasar dan Masuk pesantren,sebenarnya kami berasal dari daerah yang berbeda namun karna kehendak tuhan kami dapat dipertemukan dan merasa sangat cocok.
Waktu itu  kami masuk pesantren yang sama di (DDI) Mangakaso Kabupaten Barru Sulawesi Selatan yang tersohor alumninya pintar-pintar, cakap dan tanggap. Sebelum menjadi murid di sana atau tingkat Tsanawiyah atau Aisyah  kami harus mengikuti kelas Pamena dan Ahkirnya di sana aku berjumpa dengan Syamsul  waktu itu aku di kelas IA dan Syamsul  di kelas A6. itu berawallah persahabatan kami sampai berlanjut, tingat Tsanawiyah dan bersama-sama melanjutkan pendidikan ke Fakultas Ushuludin Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.
Syamsul  bukan dari keluarga yang berada dia anak keempat dari delapan bersaudara namun semua saudaranya  telah menuntaskan studynya walaupun ayahnya hanyalah seorang pensiunan guru SD yang tidak begitu besar jumlahnya.
Dan akhirnya setelah dia tamat studynya, dan atas kepercayaan dari pamannya ia dinikahkan dengan putrinya dan diberi modal untuk membuka usaha jual beli emas. Setelah maju pesat dan membuka cabang di beberapa daerah di Kalimantan.
Meskipun usahanya maju pesat ia tidak pernah sombong dan sangat di segani oleh orang banyak.
Setelah aku tiba di tanah Samarinda aku sangat bingung karena di sini aku tidak mengenal siapapun. Bagaikan orang asing  yang tersesat di negeri orang saat itu aku dipanggil oleh seorang laki-laki, maaf apakah ini bapak Afdal, ia betul, syukurlah pak saya supir bapak Syamsul yang disuruh untuk menjemput bapak.
Dalam hatiku alhamdulillah aku tidak perlu untuk bertanya-tanya kepada orang lain. Ternyata Syamsul sudah menyiapkan ini semua secara matang-matang sekali.
Setelah itu aku naik mobil dan saat ingin keluar dari tempat parkir sangat susah karena saat itu parkiran penuh  sesak di kelilingi lautan manusia yang sedang bertransmigrasi , akhirnya setelah menempuh waktu yang sangat berat akhirnya kami dapat keluar dari parkiran dermaga.
Dan akhirnya aku sampailah di rumah sahabatku Syamsul. Tiba-tiba datang dek Fatma, eh bang Syamsul akhirnya mau datang juga ke sini bang, silahkan masuk bang. Dek Fatma dengan basa basi mempersilahkan aku masuk.
Saat melangkah kakiku ke dalam rumahnya itu, perasaanku takjub menyelimuti hatiku, aku seperti di dalam mahligai di mana dindingnya dihiasi ayat-ayat al-Qur’an. Dinding-dinding rumah itu bercat putih bersih tampak hidup. Tulisan kaligrafi al-Qur’an yang dituangkan di atas kertas papyrus Mesir tergantung di setiap sudut rumah itu. Bahkan kembang plafon yang melingkari besi penggantung lampu kristal.
Fatma langsung mengantarkan ku ke kamar yang telah disediakan. Maaf dek abang tidak membawa oleh-oleh apa-apa soalnya Syamsul menyuruhku cepat ke sini sambil berusaha menutupi rasa bersalahku.
Tidak apa-apa bang, kedatangan abang Afdal sudah lebih dari segalanya. Mendengar kata-kata Fatma membuat jantungku berdesir dan bertanya-tanya dalam hati. Apa yang diinginkan Syamsul padaku sehingga aku yang dipanggilnya dahulu daripada anak-anak dan saudaranya.
Dek Fatma, saya langsung saja ke rumah sakit ya , aku tiba-tiba ingin cepat-cepat bertemu sahabatku Syamsul. Aku sangat merindukannya.
Iya deh, terserah bang Afdal saja. Nanti saya minta Adi untuk mengantar. Saya sebentar menyusul, saya masuk dulu. Kata Fatma setuju setelah membersihkan badan dan ganti baju  dan pamit. Aku berangkat ke rumah sakit tanpa membawa apa-apa  kecuali hatiku yang dipenuhi kasing sayang dan kerinduan yang sangat dalam.
Setelah menempuh perjalanan yang begitu jauh aku akhirnya sampai juga di rumah sakit A. Wahab Syahrani tempat Syamsul di rawat. Rumah sakit ini begitu mewah dan menakjubkan hatiku.
Namun seindah dan sebagus apapun sebuah rumah sakit tidak ada seorangpun yang mau di rawat di sini. Ungkapku tiba-tiba muncul begitu saja.
Aku bagaikan pemburu yang sedang mencari mangsa, aku langsung bergegas masuk ke dalam kamar Syamsul.
Tampaklah oleh seorang yang aku kenal sedang berbaring di atas ranjang. Aku lalu duduk di sampingnya dan memandangnya dengan puas untuk mengobati rasa rinduku padanya.
Tiba-tiba dia menggerakkan tangannya dengan yang mata yang masih tertutu sepertinya ia sedang mencari-cari sesuatu. Aku yang mengetahui hal itu langsung mengambilkan tasbihnya.
Rupanya reaksi itu memancingnya untuk membuka mata. A … a … Afdal ??? hanya itu yang terucap dari bibirnya seolah tidak menyangka aku berada di sini perasaannya bercampur kaget, gembira dan tak percaya bercampur menjadi satu.
Air matanya mengalir, sementara itu mulutnya terucap lafal-lafal suci Allah lalu kami berpelukan untuk melepaskan rindu kami.

Doa Dalam Cinta
Selama ini ternyata Syamsul tidak pernah mencintai dek Fatma ia hanya terpaksa karena didesak oleh pamannya.
Sikap Syamsul terhadap dek Fatma sangat dingin, egois dan selalu mencari kesalahan dek Fatma. Karena menurut dia Fatma tidaklah sempurna seperti yang dia inginkan.
Setelah Syamsul sering sakit-sakitan dek Fatma yang merawatnya dengan penuh keikhlasan, tidak ada rasa dendam maupun benci di wajahnya. Akhirnya Syamsul sadar semua itu, akhirnya ia bisa mencinta dek Fatma dengan segala kekurangannya. Dan akhirnya mereka bisa hidup bahagia selamanya dan mereka mendapatkan “Mukjizat Cinta”

Selesai

Penulis,
Muhammad Masykur A. R
Tahun 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar