Angels Blog

Welcome To Uwie Blog....

Selasa, 22 Maret 2011

Ringkasan Novel Tugas Muhammadiyah 2



 
KETIKA CINTA BERBUAH SURGA

Di Tanah Kurdistan ada seorang raja yang adil dan shaleh. Ia mempunyai seorang putra yang amat tampan, cerdas dan pemberani. Yang bernama Said. Saat-saat yang paling menyenangkan bagi raja itu ialah saat mengajari anaknya itu membaca Al-Qur’an lalu ia menceritakan kisah-kisah para pahlawan serta panglima di saat medan perang. Said sangat gembira saat mendengar kisah-kisah tersebut. Said bisa merasa jengkel saat mendengar cerita dari ayahnya ada seorang pengawal memberitahu ada tamu penting yang ingin sekali bertemu dengan sang raja. Sang raja mengetahui apa yang saat ini tengah dirasakan Said. Lalu sang raja memberi nasihat kepada Said.
Said anakku sudah saatnya kau mencari seorang teman yagn dapat kau ajak suka maupun duka denganmu. Dan yang dapat membuatmu menjadi seorang yang lebih baik dan yang dapat kau ajak bercinta untuk surga.
Kemudian Said tersentak mendengar perkataan ayahnya.
Apa maksud ayah dengan teman bercinta untuk surga ? tanya Said
Adalah teman sejati yang dia benar-benar mau berteman denganmu bukan karena derajat, tapi karena keikhlasan dan kemurnian cinta itu sendiri dan dia juga mencintamu karena Allah dengan dasar itu pula kau dapat mencintainya, dan kekuatan cinta kalian yang akan melahirkan kekuatan dahsyat yang membawa manfaat dan kebaikan itu juga akan bersinar dan membawa kalian masuk surga.
Said bertanya, bagaimana cara mencari teman seperti itu ayah ?
Kau harus menguji orang yang hendak menjadi temanmu untuk makan pagi di sini jika sudah sampai di sini ulurlah dan perlamalah waktu penyajian makanan, biarkan mereka semakin lapar, lihatlah apa yang mereka perbuat saat itu rebuslah tiga buah telur  dan berikan padanya dan apa reaksi mereka?
Itu tadi cara yang paling mudah bagimu syukur bila kau bisa mengetahui perilaku mereka terlebih dahulu.
Mendengar itu Said merasa sangat senang kemudian dia mempraktekannya pada anak-anak para pembesar. Sebagian besar diantaranya marah kesal dan keluar dengan muka yang sangat murung dan ada juga yang melontar kata-kata yang tak terpuji.
Diantara teman Said ada seorang anak raja yang bernama Adil  anak seorang menteri. Said mengira anak itu baik hati dan setia, dan kemudian dia mengundang Adil untuk pergi ke rumahnya sarapan. Setelah lama menunggu Said mengeluarkan tiga butir telur rebus dan kemudian Adil berkata hanya makanan seperti ini tidak dapat mengisi cacing-cacing yang berada di dalam perutku. Kemudian dia pergi begitu saja tanpa pamit.
Melihat sikap Adil seperti itu Said  tidak usah meminta maaf karena sifat Adil memang bukan orang yang setia dan lapang dada.
Kemudia hari berikutnya mengundang anak saudagar kaya raya, kemudian anak saudagar itu menerima dengan senang hati. Kemudian malam harinya sebelum bertemu dengan Said anak itu  bergegas untuk tidak makan semalaman agar paginya bisa makan banyak. Ia membayangkan makanan yang sangat lezat. Karena undangan dari raja pagi-pagi sekali anak saudagar itu telah berada di rumah Said. Sepertia anak sebelumnya ia harus menunggu waktu yagn sangat lama sapai makanan keluar. Kemudian beberapa saat kemudian keluarlah piring yang berisi telur rebus itu Said berkata, ini makanannya saya mau ke dalam ambil minuman. Lalu ia masuk ke dalam. Tanpa menghabiskan lama anak saudagar itu menghabiskan seluruh telur yang ada di atas piring tersebut. Kemudian Said keluar dengan membawa 2 gelas air putih, ternyata telur itu telah lenyap. Ia kaget.
Mana telurnya ? tanya Said
Telah aku makan.
Semuanya ??
Ya habis aku sangat lapar sih !!!
Melihat itu Said berfikir bahwa anak itu bukanlah tidak baik untuk dijadikan teman karena ia bukanlah anak yang setia di saat suka maupun duka. Kemudian Said jengkel karena anak-anak di sekitar istana tidak ada  yang baik untuk dijadikan teman. Akhirnya Said meminta izin kepada ayahnya untuk pergi mencari teman sejati.
Mulailah Said berkelana untuk mencari teman hingga sampai ladang, sawah sampai ke hutan. Di suatu pagi yang cerah ada seorang anak seorang pencari kayu. Ia memanggul kayu dengan sabar. Sehingga said mengikutinya dari belakang sampai anak itu tiba di gubuknya. Rumah dan pakaian anak itu menandakan bahwa anak itu benar-benar dari keluarga orang miskin. Kemudian anak itu mengambil air wudlu untuk melaksanakan shalat dhuha. Said memperhatikan ku dengan seksama di balik rumpun pohon setelah selesai shalat Said mendekati dan menyapa.
Kawan kenalkan nama saya Said kalau boleh tahu nama kamu siapa? Shalat apa yang baru saja kau lakukan
Namaku Abdullah tadi itu shalat dhuha.
Setelah cukup lama bermain-main dengan Said kemudian Abdullah berkata kukira kau tak pantas menjadi temanku karena aku hanyalah seorang tukang kayu yang miskin sedangkan kau seorang anak  bangsawan. Said menyahut tak baik bilang begitu kenapa kau membeda-bedakan orang yang membedakan seseorang hanya taqka. Apa kau kelihatan seperti orang jahat? Sehingga kau tak mau berteman dengan ku?
Baiklah kalau begitu kita berteman dengan syarat hak dan kewajiban kita sama sebagai teman seia sekata. Sampai akhirnya kami bermain bersama-sama dengan senang hati dan anak tukang kayu itu mengajari saya berenang Said senang sekali berteman dengan anak cerdas, rendah hati dan lapang dada seperti Abdullah.
Hari berikutnya anak tukagn kayu itu mengajak untuk bermain di rumah Abdullah. Said merasa kalah karena ia telah mengajak dia bermain ke rumah Abdullah untuk menyantap makanan yang serba sederhana sebenarnya Said ingin menambah makanannya tapi Said merasa malu  dan tak enak hati karena merasa dirinya sedang diuji. Setelah selesai makan Said diajak Abdullah  pergi ke hutan untuk mengetahui daun dan pepohonan yagn dapat dimakan dan dijadikan obat.
Said berfikir bahwa ilmu tak hanya bisa di dapat di madrasah saja ternyata ilmu dapat dicari dimana-mana.
Pada pagi hari Said meminta saudaranya untuk pergi ke rumahnya kemudian ia memberikan secarik kerta yang berisi tulisan tangannya itu. Pergilah ke ibukota berikan kertas ini pada pengawal di sana ia akan mengantar ku pergi ke rumahku.
Abdullah menjawab. Insyaallah aku akan datang.
Sampai akhirnya ia pergi ke ibu kota dan menemukan rumah Said. Ia menunggu sangat lama dan tak sedikitpu berfikir untuk memikirkan makanan yagn ia fikirkan bahwa semua anak bangsawan tidak sombong dan suka hura-hura tapi ia menemukan seorang anak saudagar yang baik dan shaleh.
Setelah itu Said keluar dengan membawa piring dan 3 telur yang ada didalamnya. Pelan-pelan Abdullah mengambil 1 butir telur dan mengupasnya pelan-pelan  dan Said telah memakannya 1 butir telur dan habis dimakannya.
Saat Said mengambil telur yang kedua dan telah selesai dikupas Said belum selesai mengupas Said menghabiskan telur yang kedua dan Abdullah pun telah selesai mengupas telur dan saat akan memakannya dia merasa tidak tega melihatnya dan dia mengambil sebuah pisau yang ada disampingnya dan memotongnya menjadi dua dan diberi kepada Said melihat itu Said merasa terharu dan berkata hanya kaulah orang yagn pantas menjadi teman dan sahabat sejatiku. Sejak saat itu ia menjadi sepasang sahabat. Berjalan beberapa tahun ayah Said meninggal kemudian Said menjadi raja dinegerinya dan menjadikan Abdullah sebagai penasehat raja yang terbaik. Merekapun menjadi seorang sahabat yang baik hingga tua.

Penerbit
Habiburrahman El Shirazy
Tahun 2004-2006

Nama   : Hesti Nurul A.
Kelas   : X.2


 
Penerbit        : DIVA Press Desember 2008
Pengarang    : Sugeng

Nama   : Siti Purwanti
Kelas   : X.2
No.abs : 28

SANG PELOPOR

Empat Sekawan
Aku adalah Ali umurku 11 tahun, dan teman-temanku Sultahn, Seno, Wisnu, dan Sukar, kami adalah anak kampung Sawah. Pulang sekolah itu sangat menyenangkan aku dan teman-temanku menghabiskan waktu bersama dan bermain bersama pula seperti memancing, main tembak-tembakan bambu atau mencari kayu. Selain untuk masak sendiri kayu itu juga kami jual. Itu hal yang sangat menyenangkan bagi kami tiada hari tanpa bermain dan membantu orang tua. Selain itu kami juga rajin belajar supaya pintar.
Karena aku tak mau hanya menjadi penjual arem-arem seperti ibuku. Tapi kami sering membuat ulah di kelas.

Ulah Kami
Di SD Negeri tepatnya kami bersekolah, bagiku bersekolah adalah hal yang menyebalkan hanya membuat ku ngantuk saja, kalau bukan karena ibuku, mungkin aku tidak akan berangkat tapi aku harus berangkat karena ingin pintar. Jarang aku mendapat hukuman yang berat-berat. Pada suatu saat aku betanya pada guruku yang sedang mengajar bahasa Inggris.
“Pak, kenapa air  laut asin? Kenapa tidak manis?”
“Kenapa saklar kalau ditekan off akan mati dan kalau ditekan on lampu menyala” itulah pertanyaan nyelenehku, bukan dijawab tapi malah memarahiku dan mengejekku sebagai anak kampungan.
Dan di lain kesempatan Sulthan pun bertanya pada guru kami
“Pak kenapa negara kita malah impor minyak bumi ke luar negeri? Padahal negara kita kaya akan minyak bumi ???”
Teman-temanku itupun tidak mendapatkan jawaban yang bersahabat … guruku malah marah dan menghardiknya.
“Tau apa kamu tentang uang negara?”
Begitulah jawab guru itu, karena kejengkelan atas pertanyaan yang nyeleneh-nyeleneh itu dan karena Sulthan yang sering membuat ulah itu, akhirnya guru itu melaporkan ke kepala sekolah. Hingga suatu saat Sulthan dipanggil ke kantor di keluarkan dari sekolahan itu. Sungguh kejam pikirku dan kami pun sangat sedih harus kehilangan Sulthan. Akhirnya demi persahabatan kami pun ikut pindah bersama Sulthan ke sekolah yang mau menerima Sulthan.


Madrasah Kampung Sawah
Sekolahannya tidak begitu besar tapi memanjang di belakangnya terdapat sawah berkotak-kotak. Nama sebenarnya adalah Madrasah Ibtidaiyah Al-Fikri, kami menyebutnya Madrasah Kampung Sawah. Di madrasah ini lah kami pindah karena hanya madrasah ini yang mau menerima sulthan. Bagai mimpi buruk karena sekolah ini sangat berbeda, di sini bahkan setiap  hari bermain karena belajarnya bukan hanya di kelas saja tapi juga dilakukan di luar kelas. Ali sangat senang sekali tempat belajarnya seperti di sungai, sawah, kebun dan lain-lain. Seakan-akan ini sebuah kebebasan yang menyenangkan tidak seperti di SD Negeri
Pak Hadi seorang kepala sekolah di sini walaupun usianya sudah tua, tapi dia masih sanggup untuk mengajar. Pak Hadi orang yang sangat arif dab baik begitu juga dengan guru-guru yang lain.

Sang Pendaki Sejati
Rencananya pagi itu kami ingin melakukan pendakian ke puncak Handoro dengan modal seadanya dan fisik yang kuat kami pun bertekad mendaki melewati pematang sawah  yang luas dan bebatuan tidak rata. Setelah beberapa jauh mendaki tiba-tiba Seno pingsan di perjalanan, memang tak mudah untuk mencapai puncak banyak orang yang menyerah dan memutuskan untuk turun. Tapi aku tetap optimis aku yakin pasti aku akan sampai ke puncak. Zuhur pun tiba kami sampai di pertengahan perjalanan kami beristirahat sebentar untuk sholat Zuhur. Setelah itu kami lanjutkan perjalanannya. Akhirnya sampai juga kami di puncak sampai di sana kami langsung shalat magrib dan beristirahat. Lelah kami seakan terbayar  atas keberhasilan kami. Dan setelah isya nanti kami rencananya akan turun dari puncak.

Memahat Cita-Cita
 Dan setelah isya tiba kami bekemas kemas untuk turun, tapi sebelum meninggalkan tempat ini aku ingin memahat cita-citaku di atas bebatuan puncak bersama teman-temanku, kami pun mulai memahatnya, pastinya aku memahat huruf “guru” teman-temanku memang belum tahu tentang cita-citaku apalagi tias sang matahariku itu, karena bagiku menjadi guru tidaklah mudah jadi aku tidak memberi tahu keteman-teman ku tentang cita-cita ku yang sebenarnya. Dan setelah selesai memahat akupun berkata ke teman-temanku.
“teman-teman aku mengajak kalian memahat cita-cita masing-masing adalah tujuannya agas besok kalau kita kembali kesini kita akan selalu ingat cita-cita yang ingin tercapai” dan setelah itu kami turun dari puncak.

Nasib Guru Kami
Rumahnya tidak begitu besar hanya berbentuk kubus kecil dan cukup untuk berteduh dari hujan dan panas. Madrasah kami juga memiliki sawah yang berada di dekatnya. Kami sering membantu memanen, tandur, mengarit, dan mengolah sawah. Meski dengan resiko badan gatal semua tapi kami senang membantunya. Yang pastinya sambil bermain di sawah itu. Sungguh bahagia. Dan uang dari hasil memanen itu sangat membantu dana operasional sekolah bahkan sebagian dana PLTL juga berasal dari situ. Sawah itu telah memberikan segalanya. Aku sungguh prihatin kepada guru-guru kami. Sudah bertahun-tahun mereka mengajar tapi tak kunjung juga diangkat sebagai pegawai negeri bahkan ada yang rela tidak dibayar sepeserpun asalkan bisa mengajar anak didik mereka.

Syarat Kelulusan
Dipagi yang  cerah itu sekolah kami mengadakan pertemuan UAN dengan wali murid dan juga para siswa menunjukkan karya-karya untuk ditunjukkan kepada wali murid abadi maju dengan penemuannya tentang penawar keracunan gudang. Selanjutnya Dewi maju dengan membacakan cerpen karangannya. Tapi ku kira itu bukan cerpen karena membacanya hampir setengah jam. Dan setelah Rustam tibalah giliranku, aku ragu untuk melangkah maju. Aku maju dengan penemuanku yaitu “Formula Tabung Kompresor”. Semua kubacakan dengan tuntas, usai menjelaskan akupun mundur. Dan setelah itu aku diikuti teman-temanku yang lain untuk menunjukkan karya-karya mereka.

Sang Pendobrak
Dan sekarang giliran Sulthan maju, anak itu kelihatan gugup dan belum siap. Untuk mempersingkat waktu Tias pun maju duluan dengan menjelaskan nasi selamatan yang mubazir. Dan setelah selesai menerangkan Tias pun mundur dan sekarang giliran Sulthan dan tentunya di melakukan eksperimen tentang listrik. Semua dia ceritakan dengan runtut tanpa ada kata yang ketinggalan. Sulthan belum selesai bercerita tiba-tiba suasana menjadi gelap dan mendungpun menyatu di atas madrasah kami. Kami semuapun panik semua masuk ke kelas dan akhirnya hujan pun turun dengan derasnya. Dan setelah itu “Subhanaallah”  ternyata Allah berkehendak lain di balik hujan dahsyat tadi kamipun keluar dari kelas sang pelangi membentang di atas kami.

Epilog
Desa Mengahan  masihlah seperti dulu, hanya saja sekarang rumah sudah ada lampu listriknya kamipun tidak susah-susah lagi untuk belajar dan kampung kami pun menjadi aman dan tentram.


Sekian


 
Nama                   :     Lina Veda Yanti Hari C.A
No                       :     16
Kelas                   :     X-2
Tahun Terbit         :     Mei 2007
Pengarang            :     DIVA Press / Taufiqurrahman Al-Azizy


MAKRIFAT CINTA

Hari-hariku kembali cerah, tetapi hari ini adalah hari yang paling cerah. Tiba-tiba aku terbayang di pelupuk mataku, wajah ayu Zaenab, Khaura Priscillia. Oh, seandainya saja cintaku diterima mereka semua betapa indahnya dunia ini.
Kang Ramhat mencaci maki dan dan mengusir Iqbal dan orang-orang pesantren ingin Iqbal keluar dari pesantren. Karena Iqbal pergi dari pesantren atas restu kyai, maka dari itu dia diberi amanah, dia minta datang kembali tiga tahun lagi setelah kepergiaannya menikahi 2 santriwati yang sudah menjadi pilihan kyai di pesantren tersebut. Setelah dia pergi dia tinggal bersama keluarga seorang pengemis, disana ia belajar al-qur’an sehingga  akhirnya dia mampu menghafal al-qur’an dengan cepat.
Iqbal bekerja pada seorang pengusaha yang bernama pak Burhan. Karena Iqbal sangat rajin , Iqbal diangkata anak oleh pak Burhan. Tepat tiga tahun Iqbal datang ke pesantren untuk menjalankan amanah bersama pak Burhan, Iqbal diantarkan ke pesantren Tegal Jadin untuk melamar Zaenab, Priscillia, dan Khaura.
Priscillia adalah seorang kristiani tetapi dia sangat menghargai agama Islam, dia mempelajari Islam kepada Iqbal. Keluarganya Pricillia tidak menyetujui kalau Priscillia masuk agama Islam, lalu priscillia diusir dari rumah oleh keluarganya.
Khaura adalah seorang gadis yang masih lugu, Khaura lulus SMA akan dinikahkan oleh keluarganya dengan seorang lelaki yang tidak dia kenal. Khaura menolak dijodohkan dan akhirnya dia pergi dari rumahnya. Kemudian Khaura mencari Iqbal di pesantren Tegal Jadin Jawa Timur untuk menceritakan semuanya.
Setelah Iqbal sampai di pesantren Iqbal mengalami kegagalan untuk menemui 3 gadis tersebut. Karena Iqbal menemui sahabatnya dahulu Ihsan. Ihsan menceritakan semuanya di salah satu pesantren ini ada santri yang sedang sakit parah. Santri itu yang bernama kang Rahmat, dia orang yang pernah mencaci maki kamu dan telah mengusir kamu. Kang Rahmat sakit parah karena sangat menyesali perbuatannya. Iqbal sebelumnya telah memaafkan kesalahan Kang Rahmat. Kang Rahmat meninggal di pangkuan Iqbal, sebelum kang Rahmat meninggal dia memberi amanah kepada Iqbal untuk menjaga pesantren Tegal Jadin.
Iqbal menyatakan  cintanya kepada Zaenab, Priscilla, dan Khaura. Tiga gadis itu tidak bisa menjawab sekarang, Iqbal disuruh menunggu. Khaura, Zaenab dan Pricilla memberikan surat kepada Aisyah untuk diberikan kepada Iqbal.
Surat cinta Zaenab yang isinya : dengan ridho Allah, saya menerima cinta mas Iqbal. Dengan ridho Allah, saya menerima takdir apakah cinta tersebut akan menyatukan kita, atau hanya sekedar menyatukan hati hati kita sebagai insan  yang berusaha menjadi hamba-hambanya. Tetapi, Akupun ikhlas melihat ikatan perkawinan antara mas dengan Lia atau Khaura.
Surat merah muda  Khaura yang isinya : Khaura masih ragu menerima cintanya Iqbal karena Iqbal bukan cinta pertamanya. Cinta pertamanya telah berlabuh pada cowok sekelasnya. Tetapi cowok itu ditinggalkan oleh Khaura karena cowok itu tidak sungguh-sungguh mencintai Khaura. Maafkan aku mas Iqbal, bukan berarti aku menolak dicintai cowok sepertimu. Hanya saja Khaura belum sanggup menerima kenyataan cinta yang selama ini justru Khaura idam-idamkan. Siapa yang tidak mau? Hanya saja Khaura ungkapkan perasaan Khaura sekarang. Dan akhirnya semuanya kembali kepada mas Iqbal.
Surat putih dari Psicillia atau surat hati priscillia yang isinya : “Aku ingin seperti mas Iqbal bisa menghafalkan Al-Qur’an, menaklukan kekelasan ucapan, sikap dan perbuatan dengan hati yang lembut. Mas diam-diam aku mengarang kliping artikel yang berjudul “Seorang Pengamen Yang Berhasil Menemukan Tuhan”. Dan juga artikel yang berjudul “Kisah Pengamen Melawan Takdir”. Dan satu lagi artikel yang judulnya. “Semua Ini Berawal Dari Orang Yang Bernama Iqbal”.
Aisyah mencari Iqbal, ternyata Iqbal ada di telaga. Aisyah datang ke telaga untuk mengasihkan surat-surat yang dinantikan Iqbal. Lalu Aisyah memberikan ketiga surat yang ditulis masing-masing oleh Zaenab, Khaura, dan Priscilla. Nih ada surat. Surat yang mas tunggu-tunggu. Dari siapa? Tanya Iqbal.
Lihat saja …
Lalu kulihat surat itu. Tepatnya surat itu ditulis oleh ketiga gadis yang aku cintai.
Kubaca isinya satu persatu. Dari surat Zaenab, Khaura, dan Priscillia. Usai membaca ketiga surat itu, hatiku diamuk gelisah yang luar biasa. Tak luput kegelisahanku ditangkap Aisyah. Diapun bertanya, kenapa mas mendesah. Ku jawab kau baca aja surat-surat ini. Aisyah pun segera membaca surat-surat itu. Setelah selesai dia memandangku. Bagaimana menurutmu? Apakah cintaku diterima? Tanyaku. Kata Aisyah, miliknya Zaenab dan Khaura menerima cintanya mas. Tetapi aku bingung dengan surat mbak Lia. Menurutku ini sih bukan surat cinta. Ini surat biasa. Coba perhatikan dengan betul. Bagaimana kamu bisa menyatakan Zaenab dan Khaura menerima cintaku ?
Lho mas kan udah baca? Masa gak bisa nyimpulin sendiri?
Aku tahu .. aku tahu tetapi menurutku menerima cintaku masih ada keraguan, tetapi dibenak mereka masih ada yang mengganjal. Ini berarti mereka tidak menerima cintaku seratus persen.
Mas maaf kalau aku berkata begini. Aku pernah membaca perkataan Imam Air yang menyatakan : Cintai kekasihmu sewajarnya (tidak berlebihan) karena mungkin saja suatu saat dia menjadi musuhmu dan bencilah musuhmu sewajarnya karena mungkin saja suatu saat dia menjadi kekasihmu. Menurutku cara Zaenab dan Khaura menerima cinta mas itu mencerminkan apa yang dikatakan oleh Imam Air tersebut.
Lalu bagaimana dengan Lia ?
Mbak Lia, oh aku sungguh tidak tahu apa maksudnya. Dia tidak menulis satu katapun tentang cinta tapi malah kebingungan terhadap agama  dan tidak pantas atau cocok tinggal dipesantren ini.
Menurut mas cinta itu adalah anugerah yang diberikan Allah kepada kita. Terhadap anugerah, kita harus menyukurinya dan melakukan dia sepantasnya. Maka menurutku tidak pantas seorang muslim bermain-main dengan cinta. Mudah membenamkan rasa cinta, atau mudah pula memutus cinta, mudah menjalani cinta atau mudah pula meninggalkan kekasih. Aku telah tertarik kepada mereka, maka aku akan nikah mereka. Duh Lia apa maksudmu ?
Engkau bukannya menerimaku atau menolakku tapi malah berbicara masalah lain seperti itu ?
Khaura mau dijodohkan oleh orant tuanya. Zaenab menyetujui mas Iqbal menikah dengan Priscillia. Bagi Zaenab mas Iqbal menikah dengan siapa saja sama saja. Apakah Khaura dan Zaenab akan tahu kalau besok aku dan Priscillia akan menikah ?
Tentu, tentu dia tahu. Iqbal dan Pricillia akan menikah Juma’at tanggal 23 Oktober pukul 10.30. Priscillia dan Iqbal hidup bahagia selamanya.



The End


Tugas Meringkas Novel

MUKJIZAT CINTA
By       : Giskania Srinita
Kelas :X1
No       : 11


Ke tanah Samarinda
Hembusan angin pagi yang sejuk menerpa dinding kapal,melintas jendela besi tak berdaun terus mendarat di wajahku, aku sedang bersandar di dinding pembatas dek lima bagian depan. selesai sholat subuh di mushola kapal yang berada di dek kapal yang paling atas.aku langsung turun ke dek lima dan mengamati laut bebas yang  terhampar di depan ku,ketika matahari mulai terbit dari peraduanyadi ufuk timur,membiaskan cahaya kemerahan menembus di dalam laut biru,yang kemudian di pantulkan kemega raga,
Di sisi lain rombongan bangau putih membelah awan tuk mencari makan di tempat yang lebih subur,meeka seakan tau kalau setiap pagi allah memberikan rezeki kepada hambanya namun banyak hambanya yang enggan bangun lebih pagi untuk mencri rezeki itu,rezeki itu datang bila di cari tidak mungkin ada langsung di hadapan kita, ibarat berlian itu tidaklah di peroleh dengan di taburkan tuhan dari langit melainkan ada di dalam tananh yang berlumpur di balik batu besar yang keras yang hrus di hancurkan setelah di pukul berkali kali.
Memang manusia makhluk yang aneh banyak harapan malas berusaha sehingga allah dan sekaligus mengancam dengan ayatnya “lana syakaratum la azalianakum walain kaffarun inna adzabilla syadid”(jika kamu bersyukur atas nikmat ku maka pasti lah aku akan tambahkan,dan jika kamu ingkar azabku sangat pedih)sudah Lama aku ingin ke tanah Samarinda namun baru tahun ini baru bisa terpenuhi  kalau bukan karna kabar sakitnya sahabatku Syamsul  mungkin selamanya aku tidak bisa menginjak kan kaki ku di tanah kutai.
Syamsul ……dia sudah lama tidak pulang ketanah Bugis aku dan Syamsul  bersahabat sejak lama sejak tamat sekolah dasar dan Masuk pesantren,sebenarnya kami berasal dari daerah yang berbeda namun karna kehendak tuhan kami dapat dipertemukan dan merasa sangat cocok.
Waktu itu  kami masuk pesantren yang sama di (DDI) Mangakaso Kabupaten Barru Sulawesi Selatan yang tersohor alumninya pintar-pintar, cakap dan tanggap. Sebelum menjadi murid di sana atau tingkat Tsanawiyah atau Aisyah  kami harus mengikuti kelas Pamena dan Ahkirnya di sana aku berjumpa dengan Syamsul  waktu itu aku di kelas IA dan Syamsul  di kelas A6. itu berawallah persahabatan kami sampai berlanjut, tingat Tsanawiyah dan bersama-sama melanjutkan pendidikan ke Fakultas Ushuludin Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.
Syamsul  bukan dari keluarga yang berada dia anak keempat dari delapan bersaudara namun semua saudaranya  telah menuntaskan studynya walaupun ayahnya hanyalah seorang pensiunan guru SD yang tidak begitu besar jumlahnya.
Dan akhirnya setelah dia tamat studynya, dan atas kepercayaan dari pamannya ia dinikahkan dengan putrinya dan diberi modal untuk membuka usaha jual beli emas. Setelah maju pesat dan membuka cabang di beberapa daerah di Kalimantan.
Meskipun usahanya maju pesat ia tidak pernah sombong dan sangat di segani oleh orang banyak.
Setelah aku tiba di tanah Samarinda aku sangat bingung karena di sini aku tidak mengenal siapapun. Bagaikan orang asing  yang tersesat di negeri orang saat itu aku dipanggil oleh seorang laki-laki, maaf apakah ini bapak Afdal, ia betul, syukurlah pak saya supir bapak Syamsul yang disuruh untuk menjemput bapak.
Dalam hatiku alhamdulillah aku tidak perlu untuk bertanya-tanya kepada orang lain. Ternyata Syamsul sudah menyiapkan ini semua secara matang-matang sekali.
Setelah itu aku naik mobil dan saat ingin keluar dari tempat parkir sangat susah karena saat itu parkiran penuh  sesak di kelilingi lautan manusia yang sedang bertransmigrasi , akhirnya setelah menempuh waktu yang sangat berat akhirnya kami dapat keluar dari parkiran dermaga.
Dan akhirnya aku sampailah di rumah sahabatku Syamsul. Tiba-tiba datang dek Fatma, eh bang Syamsul akhirnya mau datang juga ke sini bang, silahkan masuk bang. Dek Fatma dengan basa basi mempersilahkan aku masuk.
Saat melangkah kakiku ke dalam rumahnya itu, perasaanku takjub menyelimuti hatiku, aku seperti di dalam mahligai di mana dindingnya dihiasi ayat-ayat al-Qur’an. Dinding-dinding rumah itu bercat putih bersih tampak hidup. Tulisan kaligrafi al-Qur’an yang dituangkan di atas kertas papyrus Mesir tergantung di setiap sudut rumah itu. Bahkan kembang plafon yang melingkari besi penggantung lampu kristal.
Fatma langsung mengantarkan ku ke kamar yang telah disediakan. Maaf dek abang tidak membawa oleh-oleh apa-apa soalnya Syamsul menyuruhku cepat ke sini sambil berusaha menutupi rasa bersalahku.
Tidak apa-apa bang, kedatangan abang Afdal sudah lebih dari segalanya. Mendengar kata-kata Fatma membuat jantungku berdesir dan bertanya-tanya dalam hati. Apa yang diinginkan Syamsul padaku sehingga aku yang dipanggilnya dahulu daripada anak-anak dan saudaranya.
Dek Fatma, saya langsung saja ke rumah sakit ya , aku tiba-tiba ingin cepat-cepat bertemu sahabatku Syamsul. Aku sangat merindukannya.
Iya deh, terserah bang Afdal saja. Nanti saya minta Adi untuk mengantar. Saya sebentar menyusul, saya masuk dulu. Kata Fatma setuju setelah membersihkan badan dan ganti baju  dan pamit. Aku berangkat ke rumah sakit tanpa membawa apa-apa  kecuali hatiku yang dipenuhi kasing sayang dan kerinduan yang sangat dalam.
Setelah menempuh perjalanan yang begitu jauh aku akhirnya sampai juga di rumah sakit A. Wahab Syahrani tempat Syamsul di rawat. Rumah sakit ini begitu mewah dan menakjubkan hatiku.
Namun seindah dan sebagus apapun sebuah rumah sakit tidak ada seorangpun yang mau di rawat di sini. Ungkapku tiba-tiba muncul begitu saja.
Aku bagaikan pemburu yang sedang mencari mangsa, aku langsung bergegas masuk ke dalam kamar Syamsul.
Tampaklah oleh seorang yang aku kenal sedang berbaring di atas ranjang. Aku lalu duduk di sampingnya dan memandangnya dengan puas untuk mengobati rasa rinduku padanya.
Tiba-tiba dia menggerakkan tangannya dengan yang mata yang masih tertutu sepertinya ia sedang mencari-cari sesuatu. Aku yang mengetahui hal itu langsung mengambilkan tasbihnya.
Rupanya reaksi itu memancingnya untuk membuka mata. A … a … Afdal ??? hanya itu yang terucap dari bibirnya seolah tidak menyangka aku berada di sini perasaannya bercampur kaget, gembira dan tak percaya bercampur menjadi satu.
Air matanya mengalir, sementara itu mulutnya terucap lafal-lafal suci Allah lalu kami berpelukan untuk melepaskan rindu kami.

Doa Dalam Cinta
Selama ini ternyata Syamsul tidak pernah mencintai dek Fatma ia hanya terpaksa karena didesak oleh pamannya.
Sikap Syamsul terhadap dek Fatma sangat dingin, egois dan selalu mencari kesalahan dek Fatma. Karena menurut dia Fatma tidaklah sempurna seperti yang dia inginkan.
Setelah Syamsul sering sakit-sakitan dek Fatma yang merawatnya dengan penuh keikhlasan, tidak ada rasa dendam maupun benci di wajahnya. Akhirnya Syamsul sadar semua itu, akhirnya ia bisa mencinta dek Fatma dengan segala kekurangannya. Dan akhirnya mereka bisa hidup bahagia selamanya dan mereka mendapatkan “Mukjizat Cinta”

Selesai

Penulis,
Muhammad Masykur A. R
Tahun 2008
 

TITIAN    NABI
PESONA CINTA SUCI DARI TIGA NEGERI INDONESIA MESIR DAN TANAH SUCI MEKAH

Usianya baru mengimjak usia 15 ketika seorang laki laki mengetuk pintu hatinya, lelaki itu telah mengembalikan rasa percaya diri nya dengn untaian kata yang  menyejukan dan berhasil menyentuh hatinya.laki laki itu bernama Fauzan Attarbiasa di panggil Attar. Lelaki itulah yang  membimbing tanganya melangkah memasuki taman cinta kasih yang  di penuhi dengan aneka ragam tanamanberaroma harapn Zahra demikian orang memanggilnya. Seperti lazimnya para wanita,Zahra juga senang mengenang masa kecilnya yang bergelimang keindahan dan derai tawa.masih jelas terdengar panggilan nafisah ibunya dalam memorinya para tetangga sering memanggilmya Zahra sebenarnya dia lebih suka di panggil Jamilah nallawang ayah nya memberi nama Zahratul Jamilah yang berarti bunga cantik zaratul Jamilah bukan lagi berarti bunga yang cantik tapi ia berubah menjadi bunga yang  layu dengan tangkai mengering setiap melewati taman kota yang di penuhi aneka ragam bunga ia seperti melihat anak kecil yang berwajah setan. dirinya tak tau alasan penderitaan ini. Ia tiba tiba merasa makhluk yang  paling malang yang ada dalam dunia ini.kesendirian ketika malam seakan bersekutu dengan nestapa dan siap menjatuhkanya ke dalam jurang yang  dalam demikianlah derita hidup yang di alami Zahra pada usianya masih tergolong muda. ***

Watansoppeng juli-oktober 1995, awal musim hujan pun tiba rumah panggung yang  di bangundi atas tiang dari bahan kayu beringin dengan dinding dan papan lantainya terbuat dari kayu bayam dan jati,tampak tidak terlalu istimewa di banding rumah rumah lainya,itulah rumah Fauzan Attar.suatu hari dimusim itu Zahra dan Aisyah , sahabatnya mendapat undangan untuk menghadiri sebuah seminar yang diadakan oleh alumni DDI, soppeng.yang bertempat di gedung pertemuan masyarakat soppeng,dikawasan lapangan gasis,seninar ini akan membahas tentang ekonomi islam dengan narasumber alumni timur tengah.Aisyah  merupakan kepercayaan nfisah,setiap kali Zahra pergi ke swtu tempat yang  jauh pasti Aisyah  akan slalu menemaninya.dari sekian banyak peserta hanya mereka berdua yang  dari smp sedangkan yang lain kebanyakan dari anak anak smu dan mahasiswa mereka duduk dalam ruangan sambil menanti acara di mulaisementara nereka asyik dengan pikiranya masing masing.tiba masuklah seorang pemuda yang gagah lewat pintu samping,seyumnya amat manis seluruh peserta yang  ada di dalam ruangan itu terpana ketika melihat pemuda itu.akhirnya pemudatersbut mendekati tempat duduk Zahra dan Aisyah  setelah Aisyah  berdiri dan mamperkenanalkan pemuda tersebut kepada Zahra pemuda itu bernama Fauzan Attar dia adalah satu satu nya pemuda soppeng yang lolos seleksi beasiswa tahun ini untuk berangkat ke Kairo untuk belajar di Universitas Al Azhar sebagai utusan dari Depag Fauzan Attar lalu duduk di samping mereka berduadan berbincang bincang sebentarkepada Zahra dan Aisyah. ***

  Stelah acara seminar slesai Aisyah  mengajak Zahra untuk pergi ke panorama mengajak Zahra ketempat itu adalah untuk bertemu Fauzan Attar, karena itu adalah permintaan dari Attar sendiri.seandainya Aisyah  mengatakan bahwa Attar yang  mengajak Zahra kesini mungkin Zahra tidak akan mau, Zahra ingat sekali saat pertama kali ke panorama.ketika itu umur Zahra baru berumur 6 tahun dan masih samar samar dalam ingatn nya.  Kejadian yang di dalam nya  dimana dia harus rela mengubur jari manis nya yang terkena ranting pohon mangga yang tiba tiba jatuh menimpa tanganya Zahra datang lagi ke panorama untuk yang  kedua kalinya setelah satu setengah tahun yang lalu di tempat itu diia bertemu dengan seorang laki laki yang bernama faizal yang telah menyakiti hatinya Faisal  mengikrarkan janji setia di tempat itu.tapi yang di dapat hanya luka belakameskipun wktu itu usia Zahra baru 13 tahun tapi dia sudah mengenal namanya cinta dan perihnya sakit hati.dan kali ini Zahra ke panorama ntuk ke tiga kalinya dengan pasrah.sahabat yang dia sayangi meminta untuk menemani nya dan dia tidak mungkin menolak ajakan sahabatnya itu.menurut Zahra pertemuan nya dengan Attar hari ini adalah kebetulan saja puncak panorama sebenarnya tidaklah terlalu jauh hanya 300 meter jika di kur dari masjid raya babussalam tetapi bila di tempuh dengan kaki lembut Zahra akan terasa lama sekali akhirnya setelah menempuh perjalanan kira kira setengah jam mereka berdua sampai juga di tempat tujuan setelah tibalah Attar di situ Zahra kaget mengapa Fauzan Attar ada di sini setelah itu Attar mengajak Zahra dan Aisyah  duduk di kursi panjang yang  ada di taman kecil suasana di panorama tampak sepi tapi kalau hari libur  ramai orang berkunjung beberapa saat kekmudian Aisyah  minta pamit untuk ke toilet Zahra ingin ikut Aisyah  tapi Aisyah  membujuk Zahra untuk tidak usah ikut Aisyah  tw kalau dia harus memberikan kesempatan kepada Attar untuk berbicara berdua dengan Zahra dan itulah tujuan mengapa Aisyah  mengajak Zahra ke panorama setelah kepergian Aisyah  Fauzan Attar dan Zahra saling berdiam diri akhirnya Attar memulai pembicaraan dengan Zahra Attar mengtakan bahwa dirinya lah yang meminta Aisyah  untuk mengajak Zahra ke tempat ini Attar juga mengatakan bahwa beberpa tahun yang lalu dia telah membuat jari tangan Zahra buntung dan cacat tutur Attar dengan panjang lebar setelah selesai Attar meminta maaf  atas kejadian tempo dulu dan Zahra pun mau memaaf kan Attar beberapa saat lamanya akhirnya Aisyah  muncul  dan beberapa saat di tempat itu, mereka bertiga pun pulang ke rumah masing-masing.***

Sebelum pulang ke rumah Zahra mampir ke sebuah pasar kecil yang tidak jauh dari rumahnya. Baru saja beberapa langkah melewati gerbang pasar tiba-tiba turun hujan, akhirnya Zahra berlari untuk mencari tempat berteduh. Tapi karena terburu-buru Zahra menabrak seorang wanita yang membawa belanjaan banyak. Dengan rasa bersalah Zahra akhirnya meminta maaf dan membantu wanita itu berdiri dan mengambila belanjaannya. Tapi wanita itu malah menghina Zahra dengan kata-kata kotor, mendengar itu betapa sakitnya hati Zahra. Zahra tetap meminta maaf kepada wanita itu, setelah kejadian itu Zahra pulang dengan membawa kesialan dan pakain yang basah kuyup. Tidak jauh dari sekolah Zahra ada sebuah taman, orang-orang sekitar menyebutnya taman kota. Setiap Rabu sehabis pulang sekolah Zahra selalu menyempatkan diri untu ke taman itu. Dan hari ini Zahra ke taman kota dan di tempat itu Attar mengutarakan isi hatinya kepada Zahra dan akhirnya Zahra menjawab cinta Attar yang akan membawa hatinya terbang ke tanah Mesir nan jauh. Hari berganti hari begitu cepatnya. Hubungan Attar dan Zahra sudah berjalan hampir tiga bulan lebih dan semakin akrab. Hari ini merupakan hari Minggu terakhir sebelum keberangkatan Attar ke Mesir. Dan hari ini Aisyah  mengajak Zahra untuk jalan-jalan ke pemandian alam ompo bersama Attar dan Malik kakak Aisyah. Sesampai di sana Zahra menanyakan kapan Attar berangkat ke Mesir, Attar mengatakan bahwa dia akan berangkat ke Mesir pertengahan Oktober nanti. Attar akan tinggal di Kairo selama empat tahun demi mendapatkan gelar LC. Zahra akan bangga bila punya pacar yang bergelar LC. Setelah pusa bermain di pemandian itu mereka semua pulang. Tetapi Attar tidak langsung pulang tetapi dia mengantarkan Zahra pulang ke rumahnya dan sekalian berkenalan dengan kedua orang tua Zahra setelah tiba di rumah Attar berbincang-bincang dengan Mallawang dan Nafisah. Singkat cerita akhirnya Attar mendapat restu dari orang tua Zahra. Setelah kejadian itu berbungalah hati Zahra. ***

Akhirnya pagi yang tidak diharapkan Zahra dan Attar tiba juga, tepatnya tanggal 20 Oktober 1995. Attar meninggalkan tanah soppeng menuju Ujung Pandang dan ke esokan harinya berangkat ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan Bahasa Arab dan langsung terbang ke Kairo. Melalui Depag, maka dari itu ia berangkat lebih awal.
Desember 1995, dua bulan sudah Attar di Mesir kabar terakhir yang Zahra dapat adalah sewaktu Attar hendak memasuki Airport Cengkareng sebelum berangkat ke Kairo. Dan dua bulan lebih Zahra berada di bawah bibir kerinduan. Dan di Jakarta sebelum Attar ke Kairo ia terlebih dahulu mengikuti pelatihan Bahasa Arab, sesampai di sana Malik mengatakan bahwa nama Attar telah di coret oleh Depag dari peserta rombongan. Betapa sedihnya hati Attar mendengar itu, dia tidak tahu harus berbuat apa, ia tidak mungkin kembali ke tanah Soppeng dengan tangan hampa, penduduk soppeng telah menaruh harapan di pundak Attar agar Attar bisa lulus di Universitas Al Azhar Kairo dan mendapat gelar LC, keesokan harinya Malik punya cara agar mereka bisa pergi Ke Kairo menggunakan Visatour, mereka harus berbohong dengan kedutaan, sebenarnya mereka bertujuan untuk belajar bukan untuk jalan-jalan. Hari yang dinanti pun tiba tepatnya di hari Pahlawan Nasional. Attar dan Malik tinggal di KKS (Kairo) yang diurusi oleh Sulaiman. Tetapi selama di sana ternyata Sulaiman telah menyalahgunakan kepercayaan Attar dan Malik. ***
 Tahun 1994, 4 tahun sudah Attar di Kairo dan sekarang Zahra pujaan hatinya telah menjadi gadis yang cantik dan tambah dewasa, kini Zahra kuliah di salah satu Universitas di Makasar. Suatu hari ketika Zahra duduk-duduk di sebuah taman tiba-tiba Aisyah datang dan mengagetkan Zahra yang sedang termenung. Aisyah memang berbeda fakultas dengan Zahra, Aisyah mengatakan bahwa tadi ibunya Zahra telpon ke nomor Aisyah, maklum waktu itu Zahra belum mempunyai hp jadi kalau keluarga yang ada di Sopeng ingin tahu keadaan Zahra harus hubungi Aisyah. Beberapa saat kemudian ibu Zahra telpon, Nafisah mengabarkan agar Zahra besok pagi pulang ke Soppeng. Mendengar kabar itu Zahra cemas apakah di rumah ada yang sakit? Pikir Zahra saat itu tanpa pikir panjang Zahra pulang malam itu juga di dampingi Aisyah. Sesampai di Soppeng Zahra dan Aisyah  tidak berdaya karena perjalanan semalam, keesokan harinya Zahra menceritakan penyebab utamanya yang membuat mereka tidak berdaya kepada Malawang dan Nafisah. ***

Kota Watansoppeng sedang cerah, awan tampak putih bersih menghiasi angkasa. Di siang hari ada sebuah mobil angkot berhenti di perempatan jalan menuju rumah Zahra, sesampai di  depan rumah Zahra lelaki  yang turun dari angkot tadi mengucap salam tapi  yang keluar dari dalam rumah bukan Zahra tetapi Nafisah, ibunya. Lalu ibu Zahra menyuruh pemuda itu masuk dan mempersilahkan duduk. Nafisah masuk ke dalam, dia menyuruh Zahra untuk mengantarkan teh untuk pemuda itu. Ternyata pemuda yang ada di ruang tamu itu adalah Fauzan Attar kekasih hati Zahra. Zahra terkejut sekali hampir-hampir nampan yang di bawanya terjatuh, tapi Attar langsung menangkapnya. Setelah mereka duduk Zahra dan Attar bercerita, dan semakin jauh dan akrab. Setelah seharian di rumah Zahra, Attar meminta untuk undur diri pulang ke rumah. Malam harinya Zahra mendapat telepon dari Attar bahwa besok Attar akan mengajak Zahra untuk datang ke rumahnya menemui keluarganya. Keesokan harinya kira-kira pukul 4 sore, Zahra  pergi ke rumah Attar di temani Aisyah. Sesampai di rumah Attar, Zahra dan Aisyah masuk ke rumah Attar kemudian mereka duduk di depan ke dua orang tua Attar. Mereka mengobrol dan bercerita dengan hangat. Ibu Attar mengatakan bahwa sejak kecil bahwa sejak kecil Attar tantenya dan semua kebutuhan hidup Attar di tangguny tantenya itu. Ibu Attar juga bilang bahwa keberangkatan ke Kairo itu di biayai tantenya, mendengar itu Zahra kaget bukankah selama ini seluruh keberangkatan Attar di tanggung Depag, akhirnya Attar menceritakan semua kejadian yang dialaminya selama di Jakarta dan di Kairo bersama Malik. Mendengar itu Zahra tidak bisa membendung air matanya. Mereka terus bercerita dan sepertinya ibu Attar tidak keberatan kalau Zahra jadi menantunya meski dia tahu kalau tangan Zahra cacat. ***

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama karena tantenya Attar datang ke rumah, Attar memang sengaja memanggil untuk memperlihatkan dan memperkenalkan Zahra kepada tantenya. Bagaimanapun Attar tidak mungkin menikahi Zahra tanpa sepengetahuan tantenya. Setelah memperhatikan Zahra dari atas sampai bawah, dengan sinis tante Attar yang bernama Ratna mengata-ngatai Zahra dengan kotor dan pedas mendengar itu Zahra bagai di sambar petir dan ternyata tante Attar adalah wanita yang ditabrak Zahra 4 tahun silam setelah pulang dari panorama, Attar yang ada di tempat tidak bisa berbuat apa-apa. Attar tidak bisa membantu Zahra. Karena sudah tidak tahan akhirnya Zahra langsung berlari ke luar rumah Attar dengan hati hancur lebur. Aisyah segera bangkit dan mengejar Zahra dia takut terjadi apa-apa dengan sahabatnya itu. Zahra sudah sakit hati dan dia terus berleari  seperti dikejar setan. Tiba-tiba di tengah jalan angin bertiup kencang, Zahra terus berlari tanpa memperdulikan Aisyah yang mengejarnya dari belakang. Tiba-tiba petir menyambar dengan kerasnya, Zahra kaget dan langsung terjatuh. Aisyah segera lari dan memeluk Zahra. Empat tahun sudah Zahra menyimpan harapan yang begitu besar kepada Attar tetapi sekarang hancur hanya dalam beberapa menit saja. Dengan menumpang angkot Aisyah membawa pulang Zahra ke rumah, selama perjalanan Aisyah terus menghibur Zahra. Sesamapi di rumah betapa terkejutnya orang tua Zahra melihat anak mereka satu-satunya seperti itu. Setelah membawa Zahra ke kamar Aisyah menceritakan semua kejadian yang terjadi ketika di rumah Attar. Nafisah tidak menyangka bahwa keluarga Attar yang agamis itu tega melakukan perbuatan seperti itu. Tiga hari tiga malam Zahra tidak meninggalkan kamarnya. Pandangan matanya kosong dan tubuhnya kurus karena tidak mau makan. ***

Sudah setengah bulan Zahra tidak mengikuti perkuliahan, namun selama itu juga penderitaan hatinya tidak kunjung dapat di sembuhkan. Aisyah yang sempat pulang ke Makasar untuk menyelesaikan tugas-tugasnya hari itu datang lagi. Sesampai di rumah Zahra, Aisyah langsung ke rumah Zahra untuk mengetahui keadaan Zahra waktu itu. Zahra meminta Aisyah untuk mengantarkan jalan-jalan keluar. Setelah lelah mereka kembali pulang. Sebenarnya kedatangan Aisyah kerumah Zahra adalah mengantarkan amanat dari Attar. Tapi surat itu diserahkan keesokkan harinya.
Setelah mendapat surat itu kemudian Zahra membacanya setelah beberapa saat membaca, Zahra tiba-tiba menjatuhkan diri ke lantai dengan air mata mengalir di pelupuk matanya. Setelah kejadian itu Zahra tidak pulih lagi. Berhari-hari berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan keadaan Zahra seperti mayat hidup, semakin hari jiwanya semakin rapuh demikian juga tubuhnya, sedikit saja dia terkena angin langsung terserang penyakit. Keadaan itu berlangsung cukup lama. Bangku kuliah sudah ia tinggalkan dan cita-citanya pun telah sirna. Suatu malam Zahra mendengar pembicaraan antara ayah dan ibunya. Ternyata ibunya punya rencana untuk berhaji tahun ini, mendengar itu Zahra meneteskan air mata. Betapa ia ingin ke tanah suci. Keesokan harinya Zahra meminta izin agar bisa ikut berhaji, awalnya Nafisah menolak karena sudah tidak punya biaya lagi, tapi Zahra berkata bahwa dia ada uang 20 juta dari royalti tulisannya. Nafisah kaget bercampur gembira. Dua hari kemudian mereka pergi ke Bank untuk menyetor ongkos naik haji, sejak saat itu Zahra semakin aktif dalam beribadah pada Allah SWT. ***

Hari yang dinantikan tiba, begitu mendarat di bandara King Abdul Jeddah mereka bergabung dengan rombongan kloter 2 30 UPG, langsung dibawa ke Madinatul Hujjaj. Dari Madinatul Hujjaj mereka melakukan ritual pertama pelaksanaan haji yaitu mandi dan sholat ihram. Selanjutnya mereka berangkat ke Mekkah setelah 4 jam di sana. Pondokan mereka sudah di tentukan di daerah Misfalah  Maktab 75. kemudian mereka memutari Masjidil Haram ke arah kanan dan mencari pintu utama masjid yang ingin mereka masuki. Rombongan mereka ada 10 orang, masing-masing orang mempunyai tanda khusus yaitu peniti yang dilekatkan pada mukena bagian  atas. Jika mereka terpisah akan lebih mudah untuk ditemukan. Zahra tiba-tiba tersungkur bersujud ketika pertama kali melihat Baitullah. Zahra kemudian tawaf, ketika melewati rukun Yamani dia singgah sejenak dan diusapnya sudut mulia itu sambil berdoa dan begitu sampai di hajar aswad lalu dia melambaikan tangan seraya mencium dari jauh setelah 7 kali putaran, ia melaksanakan sholat sunnah tawaf dan minum air zam-zam. Ketika di Mekkah Malik datang untuk menemui Zahra dan memberikan wasiat dari Attar. Malik juga mengatakan bahwa sekarang Attar pergi jauh untuk berjihad di jalan Allah. Setelah menerima dan membaca wasiat Attar. Tiba-tiba Zahra menangis. Tiga hari menjelang wukuf, semua calon jemaah haji sudah berkumpul di padang arofah. Sehari sebelum ke arofah Zahra di serang demam tinggi namun keadaan itu tidak membuatnya patah arang. Ketika berangkat ke Mudhalifah dan mina penyakit Zahra belum turun, akhirnya Aisyah menggantikan Zahra dan ibunya untuk melontar jumroh. Esok harinya subuh pada hari tanggal 13 Dzulhijah, penyakit Zahra semakin parah, bahkan ia tidak sanggup lagi mengankat kepalanya. Dalam keadaan seperti itu Zahra masih bisa mengingat keluar di Soppeng. Dan akhirnya Zahra menghembuskan nafas terakhirnya dengan wajah berseri dengan bibir manis hendak tersenyum di atas pangkuan ibunya. Pada hari terakhir yaumun Nahr 13 Dzulhijah tahun 2000 M. ruh Zahra terbang menuju Allah SWT dengan meniti di titian Nabi pada usia mendekati 20 tahun.


Sekian

Samarinda, 27 April 2008
H. Mahmud Masykur AR. Said, LC.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar